Hasil Tujuh Hari Negosiasi COP 23

  14 NOV 2017

Rangkaian pertemuan COP-23 UNFCCC telah dimulai secara resmi pada tanggal 6 November 2017 di Sekretariat UNFCCC di Bonn, Jerman, di bawah Presidensi Fiji. Pertemuan diawali dengan serangkaian pre-sessional meetings pada tanggal 4-6 November 2017, termasuk pertemuan koordinasi G-77+China.  Menurut Dr. Nur Masripatin selaku National Focal Point untuk UNFCCC mengatakan Pertemuan dan kegiatan utama yang diikuti oleh Delegasi Indonesia meliputi Pertemuan ke-23 para Pihak pada Konvensi UNFCCC (COP 23), Pertemuan ke-13 para Pihak pada Protokol Kyoto / KP (CMP 13), Pertemuan ke-1 bagian ke-2 para pihak pada Paris Agreement / PA (CMA 1-2), Pertemuan ke-47 Subsidiary Body of Implementation (SBI 47), High-Level Event on Climate Action, Pertemuan ke-47 Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA 47), 6-15 November 2017; Pertemuan ke-1 bagian ke-4 Ad-Hoc Working Group on the Paris Agreement (APA 1-3), 7-15 November 2017 dan Paviliun Indonesia. 

Pada sesi pembukaan tanggal 6 November 2017, Presiden COP-22 (Maroko) menyerahkan mandat Kepresiden COP kepada Presiden COP-23 yaitu PM Fiji, Y.M. Frank Bainimarama. Menurut Ibu Nur, isu-isu utama yang menjadi perhatian Presiden COP 23 adalah kemajuan operasionalisasi PA melalui penyusunan modalitas, prosedur dan guidelines atas berbagai elemen PA; Finalisasi persiapan Global Facilitative Dialogue (GFD) 2018, peningkatkan akses negara berkembang pada means of implementation, termasuk adaptation finance; dan peningkatan peran non-state actors dalam climate actions (catatan: termasuk dalam hal ini adalah agenda baru SBTSA mengenai local communities and indigenous peoples)

Pada persidangan minggu pertama COP ke-23 UNFCCC, menurut Acahmad Gunawan yang  menjadi salah satu lead negosiator untuk Technologi dan Capacity Building mengatakan telah tercapai sejumlah perkembangan antara lain dihasilkannya Draft text untuk agenda Review of the effective implementation of the Climate Technology Centre and Network, draft conclusions untuk 4 agenda yaitu Report of the SBSTA, Report of the SBI, Reporting from and review of Parties included in Annex I to the Convention, and agenda Proramme budget for the biennium 2018-2019. Lebih lanjut Gunawan mengatakan pada persidangan CMP ke-13 minggu pertama, telah tercapai sejumlah perkembangan antara lain dihasilkannya Draft text untuk agenda Matters relating to the clean development mechanism (CDM) dan agenda Report of the Adaptation Fund Board, draft conclusions untuk agenda Programme budget for the biennium 2018-2019.

Menurut Bapak Joko Prihatno yang mengetuai negosiasii yang terkait dengan Metodologi mengatakan bahwapada persidangan SBSTA ke-47 minggu pertama, telah tercapai sejumlah perkembangan antara lain dihasilkannya Draft text untuk 6 agenda (Nairobi Work Programme, Joint annual report of the Technology Executive Committee, Technologi framework, Research and systematic observation, Emission from fuel used for internastional aviation and maritime transport, Local communities and indigenous peoples platform), Informal Note untuk agenda Report Adaption Committee dan agenda Article 6 of Paris Agreement,  Reflection Note untuk agenda Response Measure, serta Draft conclusions untuk agenda Common metric to calculate the carbon dioxide equivalence of greenhouse gases.

Sedangkan menurut Ibu Sri Tantri, Direktur Adaptasi Perubahan Iklim DJPPI yang banyak mengikuti isu Adaptasi mengatakan pada persidangan SBI ke-47 minggu pertama, telah tercapai sejumlah perkembangan antara lain dihasilkannya Draft text untuk 9 agenda (Compilation and synthesis of second biennial reports, Work of the Consultative Group of Expert of Natcomm from Parties not included in Annex I, Provision of financial and technical support, common time frames for NDC, Coordination support for the implementation of activities in relation to mitigation actions in the forest sector by developing countries, Matters relating to the least developed countries, Poznan strategic programme on technology transfer, Third Review of the Adaptation Fund, Annual technical progress report of the Paris Committee of Capacity Building, Way enhancing the implementation education, training, public awareness, public participation and paclic access), dan Reflection Note untuk agenda item Modalities, work programme and functions response measure.

Menurut Ibu Emma Rachmawaty selaku Direktur Mitigasi Perubahan Iklim DJPPI yang mengikuti persidangan APA mengatakan pada persidangan APA 1.4 minggu pertama, telah tercapai sejumlah perkembangan antara lain dihasilkannya Informal Note untuk agenda item Further guidance in relation to the adaptation communication, and agenda item Preparing for the convening of the first session of the Conference of the Parties serving as the meeting of the Parties to the Paris Agreement (CMA).

Menurut Ibu Nur selaku National Focal Point bagi UNFCCC mengatakansampai Sabtu 11 November 2017 terdaftar 570 orang dengan 153 orang mendaftar sebagai Tim Negosiasi dan 417 mengikuti agenda di Paviliun Indonesia maupun agenda lain di Bonn Zone dan di luar COP. Baik yang mengikuti persidangan maupun acara di Bonn Zone kebanyakan hanya mengikuti beberapa hari atau max. 1 minggu. Bagi yang mengikuti agenda di Bonn Zone cukup fleksible pengaturan waktunya, sedangkan untuk Tim negosiasi kami harus melakukan penyesuaian penugasan dari waktu ke waktu untuk menyesuaikan keberadaan masing-masing di Bonn terutama bagi Tim negosiasi yang berasal dari luar Ditjen PPI/dari luar KLHK.  

Secara substansi negosiasi,  Ibu Nur lebih lanjut menjelaskan bahwa di masing-masing agenda yang terkait ‘rule book/implementation guidelines’ terdapat sejumlah isu yang harus diselesaikan di sisa waktu yang tersedia terutama posisi negara-negara yang tergabung dalam Like Minded Developing Countries (LMDC) yang dimotori oleh China, India dan negara-negara Arab (tahun 2017 Ketua LMDC adalah Iran) yang menjurus ke renegosiasi Paris Agreement dan negara maju yang lamban merepon komitmennya/mandat Paris Agreement menyangkut means of implementation (finance, tektologi transfer dan capacity building).

Ibu Nur juga memberikan hasil pemantauan terhadap ratifikasi Perjanjian Paris,  Ia mengemukakan bahwa dengan masuknya Suriah ke dalam Paris Agreement maka USA akan menjadi satu-satunya negara yang berada di luar Paris Agreement apabila keputusan keluar PA pada waktunya direalisasikan.  Hal yang menggembirakan adalah pernytaan Negara Bagian, Swasta dan Tokoh-tokoh besar USA baik melalui Paviliun maupun forum-forum terkait dan pertemuan bilateral (e.g. anggota Parlemen) dengan negara-negara pihak, menyatakan komitmennya untuk tetap melaksanakan Paris Agreement. Slogan Delegasi USA pada COP-23 adalah “We are still in” (*).

Sumber: Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim KLHKhttp://ditjenppi.menlhk.go.id/index.php/berita-ppi/2957-hasil-tujuh-hari-negosiasi-cop-23






Anda dapat memberikan komentar pada berita setelah menjadi member situs ini.
Sudah bergabung? silahkan login disini
Belum menjadi member? Silahkan daftar disini