Sambutan Menteri LHK pada Peringatan Hari Rimbawan ke-33 Tahun 2016, 16 Maret 2016

 

SAMBUTAN
MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
PADA UPACARA BENDERA
PERINGATAN HARI BAKTI RIMBAWAN
TAHUN 2016

RABU, 16 MARET 2016

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera bagi kita semua.
Om swasti astu.

Sdr. Pimpinan UPT KLHK dan
Seluruh rimbawan yang saya cintai.

Puji dan syukur marilah kita persembahkan ke hadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kita dapat berkumpul bersama dalam keadaan sehat wal afiat pada peringatan Hari Bakti Rimbawan Tahun 2016 saat ini.

Hari Bakti Rimbawan Tahun 2016 ini telah memasuki tahun peringatan ke-33. Tema yang diangkat pada peringatan kali ini adalah “Dengan Etos Kerja dan Jiwa Korsa Rimbawan, Kita Tingkatkan Integritas Rimbawan Indonesia”. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa konstruksi penyatuan kelembagaan Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah kita selesaikan. Oleh karena itu, saatnya kita semua bahu membahu dalam mewujudkan pola pengelolaan kehutanan dan lingkungan hidup yang berkelanjutan, sejalan dengan Nawa Cita pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, seraya terus menerus kita lakukan konsolidasi dan semakin mematangkan internalisasi jati diri rimbawan, yang tidak lain adalah Sembilan nilai dasar rimbawan, yaitu: Jujur, Tanggung jawab, Disiplin, Ikhlas, Visioner, Adil, Peduli, Kerjasama dan Profesional.

Rimbawan Indonesia Tercinta,

Menghadapi situasi dan kondisi persoalan sumber daya alam kita, maka menjadi kebutuhan utama bagi para pemangku kepentingan untuk saling mendukung, sinergis dan bersungguh-sungguh, konsisten antara kata maupun perbuatan dalam upaya melestarikan hutan. Ditambah lagi pada awal era otonomi daerah terjadi tekanan lingkungan dan sumber daya hutan mengalami depresi yang hebat.

Banyak pihak terlanjur melihat komplikasi masalah pengelolaan hutan dengan berbagai tekanan dan bermacam kepentingan yang tertuju pada kawasan hutan beserta isinya. Inilah juga merupakan tantangan yang harus mampu diurai agar kekayaan sumberdaya hutan justru dapat dimanfaatkan dengan baik, tetap memelihara kelestarian hutan dan ekosistem lingkungan. Tantangan yang paling pelik yang masih terus dihadapi terutama adalah praktik penebangan liar, penyelundupan dan perdagangan hasil hutan illegal, kebakaran hutan dan lahan, deforestasi dan degradasi, masalah sosial, masalah tenurial, perambahan kawasan hutan, perdagangan illegal satwa yang dilindungi, dan lain-lain. Masalah-masalah tersebut masih relatif untuk secepat-cepatnya diatasi, dengan sistem data dan administrasi serta berbagai instrumen kerja yang belum optimal.

Masalah lainnya berkenaan dengan teknologi dan hasil penelitian belum didayagunakan secara maksimal. Belum lagi menyangkut sumberdaya manusia kita, termasuk para rimbawan yang masih kurang kokoh dalam komitmen, disiplin dan kesungguhan bekerja karena berbagai faktor seperti kapasitas, integritas dan profesionalitas. Oleh karena itu, kita berupaya untuk terus mengembangkan program kehutanan yang sesuai dengan titik berat pengorganisasian, pendayagunaan sumberdaya rimbawan dan penguatan aspek legal dan peraturan teknisnya.

Tantangan yang paling nyata adalah bagaimana peran dan fungsi kehutanan dapat dioptimalkan kembali. Saya katakan “dioptimalkan kembali” karena nyatanya sektor kehutanan pernah dianggap memiliki peran besar dalam mendukung perekonomian negara, disamping peran konservasi lingkungan yang signifikan. Adapun permasalahan kehutanan antara lain adalah: 1. Pemahaman dan pemaknaan yang salah tentang sistem alam, 2. Kebijakan yang tidak tepat, terutama tidak konsisten dalam 4 (empat) pilar pembangunan berkelanjutan (lingkungan, sosial, budaya dan ekonomi), 3. Pengelolaan hutan yang tidak lestari.

Pertanyaan besarpun segera merebak terutama bagi para rimbawan yang mengabdikan hidupnya dalam berbagai aktivitas kehutanan terutama pelaku bisnis kehutanan dan kalangan birokrat kehutanan sendiri. Pertanyaan itu meliputi, demikian pudarkah sektor kehutanan dalam percaturan pembangunan nasional serta dalam dunia usaha?

Rimbawan Indonesia yang saya cintai di seluruh penjuru tanah air,

Sektor kehutanan dengan keanekaragaman potensi kekayaan sumberdaya alam di dalam kawasan hutan seluas 130 juta hektar, dan fungsi pokok sebagai sistem penopang kehidupan, selayaknya diperankan mendukung sasaran pokok pembangunan nasional. Sektor kehutanan pernah memiliki peran utama dalam pemulihan perekonomian nasional pada era tahun 1970-an sebelum “bonanza” minyak dan gas bumi. Meskipun sudah surut secara faktual, potensi perekonomian sumberdaya hutan masih tetap tersimpan, disamping peran sentral perlindungan lingkungan hidup yang tidak boleh terputus dan sesuai mandat konstitusional untuk lingkungan yang baik bagi warga negara.

Saat ini laju deforestasi hutan sudah semakin menurun walaupun pernah meningkat tajam pada dekade yang lalu (1998-2000) sampai dengan 3 juta hektar per tahun. Meskipun laju deforestasi telah menurun, hutan telah menjadi sasaran over-exploitation yang melampaui ketahanannya. Selain itu, sektor kehutanan juga dibebani dengan kejadian kebakaran hutan dan lahan yang sangat besar pada tahun 2015 lalu akibat El-Nino. Tentu pemulihan sumberdaya hutan ini memerlukan waktu yang tidak pendek, itupun bila dilakukan dengan baik dan benar.

Dengan kondisi yang demikian, pertanyaannya adalah apakah sektor kehutanan masih mampu berperan mendukung sasaran peningkatan daya tahan ekonomi nasional dan kelestarian sumberdaya alam? Kita harus yakin untuk menjawab ya. Tidak perlu ada keragu-raguan karena justru sektor inilah yang tetap memiliki peluang pengembangan perekonomian melalui pemanfaatan yang berkelanjutan disertai dengan upaya pemulihan sumberdaya hutan, lahan dan lingkungan yang potensial meningkatkan ketahanan ekonomi, pangan maupun energi. Disinilah antara lain tantangan kepada kita semua, Rimbawan Indonesia.

Para Rimbawan di seluruh tanah air,

Harus diakui dalam sepuluh tahun ke depan kehutanan akan tetap bergulat dengan tantangan yang masih berat terutama dalam pengendalian degradasi fungsi kawasan, perubahan iklim, legalitas perdagangan hasil hutan, penyelesaian masalah sosial, pencegahan dan penanganan kebakaran hutan, tata kelola berkelanjutan dan sebagainya. Disini pula kunci utama ada pada peran rimbawan yang sangat sentral dalam pembangunan kehutanan dan lingkungan hidup. Kehutanan memerlukan rimbawan yang mampu berkomunikasi dan memiliki integritas tinggi untuk membangun bangsanya. Rimbawan harus mampu menunjukkan peran fungsinya di berbagai posisi dan profesi secara nyata serta mampu menjaga dan mendayagunakan sumberdaya hutan dengan baik dan benar. Cita-cita untuk mampu menjadi pengelola hutan tropis terbaik di dunia semestinya bukan sekedar mimpi yang tidak bisa diwujudkan. Tekad untuk mewujudkannya harus kita miliki mulai dari sekarang. Inilah juga tantangan bagi para Rimbawan.

Beberapa hal sedang berproses di dalam Kementerian LHK yang kemudian menjadi Hints atau artikulasi kerja, yaitu:
1. Kebijakan alokasi sumberdaya (lahan) hutan, pendekatan kebijakan alokatif dalam keseimbangan dan daya dukung ekosistem, keberpihakan, keadilan dan kesejahteraan masyarakat dalam format tata kelola hutan (forest governance).
2. Persoalan pokok perubahan iklim, aktualisasi lapangan, faktor kesulitan mitigasi dan upaya mainstream pengendalian perubahan iklim serta kebijakan low carbon economy.
3. Konservasi dan keseimbangan dalam pemanfaatan hutan dengan nilai tambah ekonomi dan kontribusi pertumbuhan ekonomi nasional.
4. Produksi hutan dan kontribusi pembangunan sosial ekonomi dan kesejahteraan rakyat,
5. Agenda pencapaian kualitas lingkungan dalam perspektif sosial, yakni Lingkungan yang bersih dan baik untuk kesehatan manusia.

Akhirnya untuk mencapai artikulasi yang tepat dan berbagai situasi yang ada secara nasional, maupun di berbagai daerah, diperlukan sinergi semua elemen dalam jajaran kehutanan dan lingkungan, dengan rimbawan sebagai penggeraknya (prime mover).

Demikian beberapa hal yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini. Selamat Hari Bakti Rimbawan 2016. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa memberkahi dan meridhoi langkah-langkah kita dalam membenahi dan mengelola sumberdaya hutan secara lestari dan berkelanjutan serta membangun lingkungan yang berkualitas bagi Indonesia kita. Terima kasih.

SELAMAT HARI BAKTI RIMBAWAN.

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Om santi santi santi om.

MENTERI LINGKUNGAN HIDUP
DAN KEHUTANAN

SITI NURBAYA