Potensi Pemanfaatan Limbah Non B3 Menjadi Energi

  17 MAY 2018

SIARAN PERS
Nomor : SP. 258 /HUMAS/PP/HMS.3/05/2018



Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kamis, 17 Mei 2018. Indonesia saat ini masih tergantung pada energi tidak terbarukan (unrenewable energi) seperti minyak bumi dan batu bara. Menurut Kementerian ESDM (2012), penggunaan minyak bumi mencapai 63% dari total energi yang digunakan, sedangkan cadangan minyak bumi Indonesia tersisa untuk 18 tahun ke depan saja. Cadangan batubara Indonesia relatif besar namun kualitasnya berkalori rendah, dan mengakibatkan dampak kurang baik pada lingkungan.

Menyadari hal tersebut, energi terbarukan (renewable energi) sangat berpotensi menyokong kebutuhan energi di Indonesia, seperti matahari, angin, air, dan biomassa. Tahun ini KLHK bekerjasama dengan 6 kabupaten dan 6 universitas dalam rangka pemanfaatan limbah non B3 menjadi energy. Kerjasama tersebut meliputi Kabupaten Pelalawan, Katingan, Pasangkayu, Deli Serdang, Belitung Timur dan Kotabaru, serta Universitas Riau, Universitas Palangkaraya, Universitas Tandulako, Universitas Sumatera Utara, Universitas Bangka Belitung dan Universitas Lambung Mangkurat.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK, Rosa Vivien Ratnawati, menyampaikan bahwa berdasarkan hasil penelitian di Kementerian ESDM tahun 2008, potensi energi Biomassa Indonesia sangat besar, secara teori diperkirakan mencapai 48.810 MW. “Angka ini diasumsikan dengan dasar kadar energi dari produksi tahunan sekitar 200 juta ton biomassa dari residu pertanian, kehutanan, perkebunan dan limbah padat perkotaan”, kata Rosa Vivien.

Dikatakan Rosa Vivien, potensi biomassa yang cukup besar di Indonesia yaitu dari limbah kelapa sawit. Data Statistik Kelapa Sawit 2015 – 2017 dari Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian menyebutkan bahwa produksi kelapa sawit pada tahun 2015 di Kabupaten Deli Serdang 176.049 ton, Kabupaten Pelalawan 1.562.238 ton, Kabupaten Belitung Timur 126.450 ton, Kabupaten Katingan 168.149 ton, Kabupaten Kota Baru 539.042 ton, dan Kabupaten Pasangkayu 210.600 ton.

Selain dari limbah kelapa sawit, potensi besar juga ada pada tandan kosongnya yang dapat dimanfaatkan sebagai energi, baik gas maupun listrik. Data tahun 2015 menunjukkan, sebesar 35.209,8 ton di Kabupaten Deli Serdang, 312.447,6 ton di Kabupaten Pelalawan, 25.290 ton di Kabupaten Belitung Timur, 33.629,8 ton di Katingan, 107.808,4 ton di Kotabaru, dan 42.120 ton di Pasangkayu.

“Pembangunan fasilitas pemanfaatan limbah non B3 biomassa menjadi energi ini bermanfaat dalam mengurangi timbulan limbah B3 sebesar 20 ton/bulan; Sumber energi alternative – gas dan elektrifikasi dengan perkiraan 12 m3/ton/hari setara dengan 5,4 kg LPG/ton/hari; Meningkatkan pendapatan masyarakat; Ramah lingkungan (methane capture); dan Ketangan pangan dengan budidaya jamur”, jelas Rosa Vivien.

Kegiatan ini merupakan replikasi kegiatan serupa tahun 2017 lalu dimana KLHK bekerjasama dengan Universitas Lampung. Pembangunan fasilitas pemanfaatan limbah non B3 biomassa menjadi energi, hasilnya dirasakan langsung oleh 20 Kepala Keluarga di Desa Jatidadar, Kabupaten Lampung Tengah.

Fasilitas di 6 kabupaten ini diharapkan dapat menjadi percontohan yang baik yang kemudian direplikasikan di daerah sekitar. “Dengan demikian, selain mengelola lingkungan hidup menjadi lebih baik, hal ini membantu masyarakat memperoleh energi, menambah pendapatan, serta mengurangi ketergantungan terhadap energi tidak terbarukan. Diharapkan kedepan kerjasama serupa dapat dikembangkan di daerah-daerah lainnya yang memang memiliki potensi biomassa cukup besar”, pungkas Rosa Vivien.

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,
Djati Witjaksono Hadi – 081375633330