Badan Litbang dan Inovasi KLHK Pimpin Inovasi Bidang LHK di Masa Depan

  12 SEP 2018

Nomor: SP.507/HUMAS/PP/HMS.3/09/2018

Bogor, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rabu, 12 September 2018. Program penelitian dan pengembangan di bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), dituntut untuk dapat menjawab permasalahan global dan nasional, serta isu-isu strategis yang berkembang saat ini.

Hal ini sangat penting, mengingat setiap kebijakan bidang LHK harus didasarkan kepada hasil-hasil penelitian (scientific based research).

Hal di atas kiranya menjadi pesan utama Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK, Agus Justianto, saat membuka Rapat Koordinasi Perencanaan BLI Tahun 2018, di Cisarua, Bogor (12/9).

"Dengan demikian, BLI diharapkan dapat mengambil peran sebagai ‘leading the way', dalam pencapaian program KLHK", tegas Agus.

Dituturkannya, kegiatan BLI harus sesuai dengan tema prioritas pembangunan nasional, dan mengacu pada Rencana Strategis KLHK, serta mendukung NAWACITA pemerintah, melalui skema Money Follow Program. 

"Saat ini BLI telah berkontribusi dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2018 dan RKP tahun 2019, dalam mendukung kegiatan Prioritas Nasional 3, yaitu melalui kegiatan Pengkajian dan Pengembangan Ekowisata Kawasan Hutan Aek Nauli," lanjutnya.

Salah satu keberhasilan nyata BLI, adalah terkelolanya 34 Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Sulawesi, dengan luas total 37.469 ha. Pengelolaan KHDTK ini dilakukan melalui kerjasama dengan berbagai pihak terkait, sesuai amanat Permen LHK No. P.15 tahun 2018 tentang KHDTK.

Selain itu, Agus juga menerangkan, BLI telah mendukung Instruksi Presiden RI terkait pencegahan kebakaran hutan dan lahan gambut; percepatan implementasi reformasi agraria; serta terwujudnya program perhutanan sosial, melalui kegiatan litbang, naskah akademik, policy brief, kajian isu aktual, hingga menjadi pilot IPTEK.

Melalui Rakoren bertema 'Penguatan Perencanaan dan Penganggaran dalam Mendukung Capaian Target Renstra BLI 2015-2019' ini, Agus berharap BLI dapat menjadi pusat unggulan IPTEK dengan jaringan kerjasama yang luas hingga ke luar negeri.

Terkait berbagai kerjasama riset nasional yang sudah berjalan, Agus menekankan agar selalu dibangun sinergitas dengan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder). 

Senada dengan Kepala BLI, 
Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenristekdikti, M. Dimyati, juga menyampaikan pentingnya sinergitas dalam riset terkait prioritas nasional. Mendukung hal ini, telah diterbitkan Peraturan Presiden RI No. 38 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Riset Nasional 2017-2045.

Sementara itu, menghadapi permasalahan riset di Indonesia dan kemajuan industri revolusi keempat, Dimyati menyampaikan beberapa strategi. 

"Mari kita gali identifikasi diri kita, dan memulihkan rasa percaya diri bahwa kita bisa, mereformasi regulasi secara fundamental, untuk mengubah mindset, hingga akhirnya dapat mendorong kekayaan intelektual produktif," ujar Dimyati menyampaikan strateginya.

Alokasi dana penelitian di tahun 2018 untuk seluruh Kementerian/Lembaga di Indonesia kurang lebih sekitar 22,17 trilyun rupiah, dimana angka ini meningkat dari tahun sebelumnya, yaitu sebesar 18,97 trilyun rupiah. Terkait hal ini, Dimyati mengimbau agar hasil kegiatan riset dapat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya secara sosial dan ekonomi, serta signifikan dibandingkan hasil riset luar negeri. 

Tidak lupa, Dimyati juga berpesan agar para peneliti dapat memanfaatkan potensi generasi milenial saat ini, dan penyusunan kebijakan bidang LHK dapat disesuaikan dengan kondisi terkini, untuk mendukung percepatan riset.

Dalam kesempatan Rakoren ini, juga dilakukan penandatanganan perjanjian kerjasama antara Balai Litbang Teknologi KSDA dengan PT. Pertamina Hulu Mahakam, tentang program perlindungan keanekaragaman hayati. Kerjasama ini akan dilakukan di Site South Processing Unit (SPU) di Desa Muara Pantauan, Kecamatan Anggara, pada lahan seluas kurang lebih 25.000 meter persegi, dan SPU Senipah, di Kelurahan Senipah, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kertanegara, pada lahan seluas kurang lebih 214.000 meter persegi.

Dihadiri seluruh jajaran dan peneliti BLI di seluruh Indonesia, Rakoren ini juga turut diramaikan berbagai inovasi BLI, antara lain peluncuran aplikasi Sistem Penilaian Proposal online (Siproline), Sistem Informasi Jabatan Fungsional (Sijainal), dan buku Warisan Alam Wehea-Kelay.(*)

Penanggung jawab berita: 
Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 
Djati Witjaksono Hadi – 081977933330