Dukung Optimalisasi Riset, Badan Litbang dan Inovasi KLHK Luncurkan Inovasi Kekinian

  12 SEP 2018

Nomor: SP. 508/HUMAS/PP/HMS.3/09/2018

Bogor, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rabu, 12 September 2018. Permudah pelayanan publik dan mendukung pengelolaan data informasi yang cepat dan akurat, Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK luncurkan dua inovasi kekinian, untuk diterapkan pada unit-unit kerja BLI. Salah satunya adalah Sistem Penilaian Proposal Online (Siproline), untuk memudahkan proses penelaahan (review) proposal bagi para peneliti BLI di seluruh Indonesia.

"Melalui Siproline, review dapat dilakukan dengan mudah secara online, dan dapat ditindaklanjuti dengan cepat untuk feedback perbaikannya", ujar Dr. Krisdianto, Sekretaris Dewan Riset BLI, yang juga peneliti madya dari Pusat Litbang Hasil Hutan BLI KLHK.

Dijelaskan Krisdianto, selama ini review dilakukan secara offline, dan masih ditemukan ketidakkonsistenan format, proses review yang lama, keterlambatan perbaikan (feedback), serta ketidaksesuaian kegiatan riset yang disetujui dengan pembahasan sebelumnya. Hal ini tentunya sangat menghambat target kegiatan riset yang ingin dicapai. 

"Dalam Siproline akan lebih terkendali karena ada tiga tahapan utama, yaitu proses review, perbaikan di bawah kendali bagian program, hingga proposal final", lanjutnya. Selain itu, Siproline memiliki sistem peringatan (reminder), apabila salah satu proses melebihi periode waktu yang telah ditentukan.

Bersamaan dengan peluncuran Siproline, saat Rapat Koordinasi Perencanaan BLI KLHK di Bogor (12/9), BLI juga meluncurkan Sistem Informasi Jabatan Fungsional (Sijainal), berbasis mobile web (android).

Sebagai penggagas Sijainal, Priyo Kusumedi, Kepala Bagian Umum Balai Besar Litbang Bioteknologi Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta, menerangkan, Sijainal dibangun untuk mendukung pengelolaan data dan informasi kepegawaian jabatan fungsional yang cepat dan akurat, serta dukungan peringatan dini dan self assesment, dalam pemenuhan capaian target angka kredit para peneliti.

"Selain juga sebagai real time monitoring dan evaluasi kondisi pejabat fungsional, sehingga menghindari kemungkinan pemberhentian pejabat fungsional karena target angka kredit yang tidak tercapai", tambahnya menjelaskan sistem berbasis Android ini.

Dengan kapasitas 1,7 MB, Sijainal sudah tersedia di playstore dan siap diunduh. Selain data lengkap profil semua jabatan fungsional BLI KLHK, Sijainal juga dilengkapi dengan sistem peringatan dini (early warning system), bagi para penggunanya, terkait target angka kredit yang harus dicapai. 

Tidak kalah dengan kedua inovasi diatas, pada kesempatan yang sama, diluncurkan Buku Warisan Alam Wehea - Kelay, yang merupakan hasil kajian kelompok kerja (Pokja) Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Wehea-Kelay, seluas 532.143 Hektar di Provinsi Kalimantan Timur. Buku ini berisi berbagai macam informasi potensi flora dan fauna di dalam kawasan Wehea-Kelay, terutama keberadaan satwa Orangutan (Pongo pygmaeus morio). 

Dilatarbelakangi kegiatan pengelolaan konservasi di KEE Wehea-Kelay, Kepala Balai Litbang dan Teknologi KSDA BLI KLHK, Ahmad Gadang Pamungkas, menyampaikan, pentingnya pengelolaan KEE Wehea-Kelay secara kolaboratif.

"Selain menjadi habitat penting Orangutan, KEE Wehea-Kelay adalah runah bagi berbagai jenis keanekaragaman hayati lainnya. Interaksi antara komponen spesies tersebut dengan lingkungan habitat disekitarnya yang berjalan secara normal, memberikan nilai tambah terhadap jasa lingkungan yang dihasilkan", ujarnya.

Gadang juga berharap, hadirnya buku ini dapat meningkatkan semangat konservasi di KEE lainnya, dengan tanpa mengesampingkan kepentingan ekonomi, agar dapat seiring sejalan.

Didukung oleh The Nature Concervacy (TNC), masyarakat adat Wehea, serta beberapa pihak swasta, buku ini merupakan lanjutan dari buku seri pertama berjudul "Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial Koridor Orangutan Bentang Alam Wehea-Kelay".(*)

Penanggung jawab berita: 
Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 
Djati Witjaksono Hadi – 081977933330