Dorong Peran Swasta serta Dukungan Riset dalam Pengelolaan Gambut Berbasis Lanskap

  13 SEP 2018

SIARAN PERS
Nomor: SP.  511  /HUMAS/PP/HMS.3/9/2018


Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kamis, 13 September 2018. Membahas pengelolaan gambut berbasis lanskap, KLHK menggelar Diskusi Pojok Iklim dengan topik konservasi untuk pemulihan ekosistem dan tata kelola air. Hadir sebagai pembicara adalah Kresno Dwi Santosa, Production Manager KELOLA Sendang, Zoological Society of London; Dr. Ir. Yuli Suharnoto, M.Eng, Profesor Pusat Studi Teknik Sipil dan Lingkungan LPPM IPB; Soegeng Irianto, Presiden Direktur PT. Global Alam Lestari dengan moderator Efransyah, Penasehat Senior KLHK.

Lanskap hutan rawa gambut Indonesia sebagai lokasi biodiversity hotspots dan penyimpan karbon dalam jumlah besar telah berubah secara drastis akibat konversi ke perkebunan, kanalisasi, serta kebakaran yang terus berulang. Efransyah dalam mengawali diskusi menyampaikan, KLHK dan Badan Restorasi Gambut (BRG) menerapkan tiga tipe intervensi yaitu rewetting, revegetation dan revitalization of livelihoods demi melindungi ekosistem dan tata kelola air di lahan gambut. Namun demikian, interaksi berbagai macam kepentingan terhadap sumberdaya alam khususnya air menghadirkan kompleksitas pengelolaan gambut di tingkat tapak.

Kresno dalam presentasinya memaparkan, model pengelolaan gambut berbasis lanskap dalam bentuk kemitraan publik-swasta-masyarakat menjadi penting untuk dikedepankan agar dapat mendorong multi-fungsi dan multi-benefit dari pengelolaan gambut yang menyelaraskan tujuan produksi, konservasi dan penghidupan masyarakat. Dengan demikian, gambut sebagai kesatuan hidrologis dapat menghadirkan manfaat secara keseluruhan.

Selanjutnya dukungan sains, data dan informasi mutlak diperlukan agar sustainable landscape dapat tercapai. Dr. Yuli menyatakan bahwa saat ini Institut Pertanian Bogor (IPB) tengah menyiapkan sebuah tool berupa Desain Pengelolaan Tata Air Terpadu pada Skala KHG untuk membantu pengelolaan air di area gambut. Tool dibangun sebagai model neraca air yang memadukan surface hydrology dan ground water hydrology untuk memprediksi turun naiknya muka air tanah di lahan gambut. Nantinya tool tersebut dapat memodelkan efektivitas sekat kanal dalam mempertahankan muka air tanah serta memodelkan sekat lahan untuk mengurangi seepage atau kebocoran air dari lahan gambut.

Perspektif lanskap dalam pengelolaan gambut mampu menyeimbangkan fungsi ekologi dan ekonomi yang mencakup konservasi, keanekaragaman hayati, serta mempertahankan stok karbon dan jasa lingkungan. Terakhir, dukungan sains, data dan informasi secara komprehensif mampu memastikan pengelolaan gambut Indonesia secara lestari dan berkesinambungan.


Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Djati Witjaksono Hadi – 081977933330