Pemerintah Kembangkan Berbagai Inovasi Pembukaan Lahan Tanpa Bakar

  27 OCT 2018

Nomor: SP. 600/HUMAS/PP/HMS.3/10/2018

Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sabtu, 27 Oktober 2018. Penyiapan lahan tanpa membakar menjadi terobosan dalam pecegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berbagai inovasi diciptakan sebagai alternatif cara membuka, menyiapkan, dan atau membersihkan lahan tanpa membakar, untuk areal pertanian atau pun perkebunan. Inovasi-inovasi tersebut antara lain rekayasa bioteknologi, pemanfaatan bahan bakaran menjadi biochar, asap cair, briket, dan arang aktif.

Melalui talkshow “Penyiapan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) dalam Mendorong Pencegahan Karhutla di Tingkat Tapak”, yang diselenggarakan KLHK pada acara Hari Aksi Pengendalian Perubahan Iklim Tahun 2018, beberapa waktu lalu, dipaparkan Beragam inovasi yang telah dikembangkan dan diterapkan oleh KLHK, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Kementerian Pertanian.

Peneliti dan Ketua Dewan Riset Badan Litbang dan Inovasi (BLI), KLHK, Gustan Pari, memaparkan pemanfaatan bahan bakaran dari limbah organik/biomassa penebangan kayu, seperti potongan kayu, sebetan, sampah, seresah, ranting, dan juga *serbuk kayu gergajian*, menjadi produk yang bermanfaat untuk masyarakat itu sendiri. 

“Masyarakat Palangkaraya sudah mencoba mengolah bahan bakaran bekas tebangan menjadi arang yang dapat berfungsi membangun kualitas dan kondisi tanah baik secara fisik, kimia, dan biologi tanah,” terangnya. 

Arang diketahui sebagai pembenah tanah, karena arang mempunyai pori-pori yang dapat menyerap dan menyimpan air, panas dan hara, kemudian hara tersebut akan dikeluarkan kembali sesuai kebutuhan. Selain arang, limbah organik/biomassa penebangan juga dapat dimanfaatkan menjadi biochar, asap cair, asam cuka, arang aktif, dan nano karbon. 

Sementara BPPT mengembangkan rekayasa bioteknologi melalui pembuatan biopeat. Rekayasa ini dibuat dengan mengembangkan mikroba yang dapat mengolah lahan gambut secara alami, dapat bertahan pada lahan gambut, dan berguna bagi pertanian. 

"Mikroba biopeat ini dapat mengurangi keasaman tanah dan bertahan hidup dan bisa memenuhi kebutuhan ph tanah utk pertanian," jelas Direktur Pusat Teknologi Bio Industri, BPPT, Asep Riswoko. 

Sebagaimana diketahui, dalam Undang-undang Nomor 39 Tahun 2015 tentang Perkebunan, disebutkan setiap pelaku usaha perkebunan dilarang membuka, dan atau mengolah lahan dengan cara membakar. 

Hal ini menjadi dasar bagi semua pihak untuk turut menjaga lingkungan dari kebakaran hutan dan lahan. Kementan juga melaksanakan program kegiatan pembukaan dan/atau pengolahan lahan perkebunan tanpa membakar secara manual (tenaga manusia) atau mekanis (tenaga mesin). 

Kasubdit Gangguan Usaha Dampak Perubahan Iklim dan Pencegahan Kebakaran, Ditjen Perkebunan, Kementan, Agus Hartono, menjelaskan bahwa, kegiatan pembukaan lahan perkebunan tanpa membakar dapat dilakukan melalui mengimas dan/atau menumbangkan pohon, merencek dan merumpukan kayu, membuat rintisan dan membagi petak kebun, membuat jalan dan parit, membuat terasiring, membuat pancang jalur tanam/pancang kepala, dan membersihkan jalur tanam. 

"Inovasi-inovasi ini diciptakan untuk menjawab tantangan masa kini, dimana pembukaan atau penyiapan lahan tanpa membakar menjadi solusi untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Diharapkan masyarakat, petani, pekebun dapat menerapkan inovasi-inovasi tersebut sehingga dapat mengurangi intensitas karhutla di Indonesia," harapnya optimis.(*) 

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat KLHK,
Djati Witjaksono Hadi – 081977933330