Menteri LHK Paparkan Keberhasilan Indonesia Dalam Konservasi Keanekaragaman Hayati di Norwegia

  03 JUL 2019

Nomor: SP. 238/HUMAS/PP/HMS.3/7/2019

Trondheim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rabu, 3 Juli 2019.
Menteri LHK, Siti Nurbaya menyampaikan paparan tentang pengelolaan keanekaragaman hayati di Indonesia pada official opening of the 9th Trondheim Conference on Biodiversity di Hotel Scandic Lerkendal Trondheim Norwegia, Selasa, (2/7/2019).

Acara pembukaan the 9th Trondheim Conference on Biodiversity diawali dengan sambutan selamat datang dari Wakil Walikota Trondheim, Ola Lund Relonen, dan dilanjutkan sambutan selamat datang dari Wakil Parlemen, Saami Parlement Hendrik Olsen. Selanjutnya berturut-turut sambutan pembukaan disampaikan oleh Menteri Iklim dan Lingkungan Hidup Norwagia, Ola Elvestuen, Wakil Menteri Lingkungan dan Pembanguan Berkelanjutan Colombia, Menteri LHK Siti Nurbaya dan Wakil Menteri Ekologi dan Lingkungan China.

Dalam paparannya Menteri Siti mengapresiasi Pemerintah Norwegia atas penyelenggaraan konferensi Trondheim ke-9 tentang Keanekaragaman Hayati yang luar biasa. Lebih lanjut dalam kesempatan tersebut Menteri Siti juga berbagi informasi dan pengalaman Indonesia dalam pengelolaan keanekaragaman hayati. 

"Sebagai negara yang kaya akan keanekaragaman hayati, Indonesia telah menunjuk 552 kawasan konservasi seluas 22 juta hektar. Selain itu, kami memiliki sekitar 29 juta hektar hutan lindung dan 0,7 juta hektar kawasan ekosistem penting (ekosistem esensial). Jika dijumlahkan, berarti lebih dari 51 juta hektar kawasan di Indonesia yang berstatus dilindungi atau lebih dari 28% dari  daratan Indonesia. Angka ini telah melampaui target global Aichi sebesar 17%," ujar Menteri Siti.

Aichi target merupakan kesepakatan setiap negara yang meratifikasi Convention on Biological Diversity (CBD), di Indonesia yang meratifikasi CBD sejak 1994, Aichi target diterjemahkan menjadi Indonesian Biodiversity Strategi Action Plans (IBSAP). Salah satu target Indonesia di Aichi target adalah mempertahankan 11% kawasan dilindungi dan ekosistem demi mempertahankan keanekaragaman hayati. Aichi target dimulai sejak tahun 2015 dan akan berakhir ditahun 2020.

Menteri Siti pun menambahkan bahwa untuk kawasan konservasi laut, pada tahun 2018 Indonesia tercatat telah memiliki sekitar 20 juta hektar kawasan konservasi laut. Angka luasan kawasan ini melampaui target Aichi pada 2020. 

Selanjutnya dijelaskan juga oleh Menteri Siti terkait konservasi pada tingkat spesies, Indonesia telah menetapkan target untuk memulihkan populasi 25 spesies yang terancam punah setidaknya 10% antara tahun 2013 dan 2019. Untuk kepentingan tersebut telah disusun peta jalan untuk mencapai target, serta membangun 272 lokasi pemantauan selama lima tahun terakhir. Salah satu hasil yang dicapai, misalnya, populasi Bali Myna (Leucopsar rothschildi) di Taman Nasional Bali Barat telah berhasil meningkat dari 31 individu pada 2015 menjadi 191 individu pada 2019. Contoh lain adalah kegiatan konservasi telah meningkatkan kepadatan Harimau Sumatra diempat taman nasional (Gunung Leuseur, Kerinci Seblat, Berbak Sembilang, dan Bukit Barisan Selatan) berkisar antara 0,07 hingga 1,24 pada tahun 2018 dibandingkan dengan data dasar tahun 2013. 

Untuk program konservasi ex situ, Indonesia telah membentuk 84 kebun binatang, 27 unit rehabilitasi satwa liar dan 1.118 unit penangkaran. Indonesia juga telah mengembangkan peraturan untuk memastikan keterkaitan antara konservasi ex situ dengan konservasi in situ melalui restocking untuk pemulihan populasi spesies di alam. Indonesia juga telah mengeluarkan standar untuk kesejahteraan hewan. 

Yang tak kalah penting juga mengenai konservasi sumber daya genetik. Indonesia telah mengembangkan bioprospeksi untuk mengeksplorasi nilai sumber daya genetik untuk keamanan dan kesehatan pangan. Sebagai contoh, Candidaspongia sp., Spons yang endemik di Teluk Kupang telah diidentifikasi sebagai zat anti kanker.

Namun demikian Menteri Siti menyebut masih ada tantangan besar, yaitu terkait pemanfaatan keanekaragaman hayati yang tidak berkelanjutan seperti perdagangan ilegal satwa liar dan kejahatan terkait. Untuk mengatasinya Indonesia  melakukan penegakan hukum lingkungan hidup dan kehutanan, yang hasilnya mampu melindungi 7,6 juta ha hutan. Hal Ini menunjukkan betapa pentingnya penegakan hukum serta hubungan erat antara keanekaragaman hayati dan hutan sebagai ekosistem.

Indonesia juga berpandangan bahwa untuk mencapai target global, pengarusutamaan keanekaragaman hayati dalam perencanaan pembangunan berkelanjutan lintas sektor, termasuk sektor publik dan swasta adalah kunci untuk menyeimbangkan konservasi dengan pembangunan berkelanjutan. Contoh nyatanya terlihat dari pelaksanaan pembangunan infrastruktur yang sedang digalakkan di Indonesia saat ini. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan peraturan nasional tentang pembangunan jalan hijau di kawasan hutan, seperti pembangunan jembatan layang atau underpass untuk melindungi habitat satwa liar. 

Semua upaya konservasi keanekaragaman hayati tersebut tentu membutuhkan sumber daya. Indonesia mengajak negara-negara pemilik biodiversitas yang hadir pada konferensi ini untuk berkomitmen memobilisasi sumber daya baru untuk keanekaragaman hayati dari berbagai sumber, termasuk penghitungan modal alam, menginternalisasi eksternalitas, pembayaran untuk jasa ekosistem, dana lingkungan, perpajakan lingkungan, pelabelan lingkungan, kampanye publik dan kepemimpinan.

"Saya ingin menyerukan peningkatan kerja sama global untuk melindungi keanekaragaman hayati kita. Saya harap kita dapat bekerja bersama untuk merumuskan indikator, instrumen, mekanisme, upaya, dan jalan ke depan untuk mencapai tujuan ambisius pasca Kerangka Keanekaragaman Hayati Global 2020," pungkas Menteri Siti.

Sebelum mengakhiri paparannya Menteri Siti memperlihatkan video singkat pelaksanaan konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia dan video tersebut menarik perhatian beberapa delegasi serta menginginkan mendapatkan copy video tersebut.

Hadir dalam official opening tersebut,  Carlos Manuel Rodriguez, Minister of Environment, Costa Rica; Svenja Schulze, Minister for Environment, Nature Conservation and Nuclear Safety, Germany; Mary Goretti Kikutu Kimono, Minister of Environment, Uganda; Goran Trivan, Minister of Environment, Serbia; Krista Mikkonen, Minister of Environment and Climate Change, Finland; Batio Nestor Bassiere, Minister of Green Economy and Climate Change, Burkina Faso; Dr. Zhai Qing, Vice Minister of Ecology and Environment, 
The People’s Republic of China; María Claudia García, Deputy Minister of Environment and Sustainable Development, Colombia; Martine Dubuc, Associate Deputy Minister of Environment and Climate Change, Canada; Takaaki Katsumata, Vice Minister of Environment, Japan; Ms. Inger Andersen, Executive Director of UN Environment.

Fokus utama the 9th Trondheim Conference on Biodiversity adalah untuk memberikan dukungan bagi diskusi yang sedang berlangsung tentang kerangka kerja keanekaragaman hayati global pasca-2020. Pertemuan ini akan menjadi kesempatan bagi para pemangku kepentingan untuk membahas pengetahuan terbaru dan terbaik yang tersedia yang relevan dengan fungsi dan layanan keanekaragaman hayati, dan untuk mempertimbangkan implikasi pengetahuan ini untuk pengembangan kerangka kerja keanekaragaman hayati global pasca-2020.(*)

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Djati Witjaksono Hadi – 081977933330