Dampak Kebakaran Hutan di Australia Jadi Pelajaran Masyarakat Indonesia untuk Tidak Membakar Lahan

  09 JAN 2020

Nomor: SP.008/HUMAS/PP/HMS.3/01/2020

Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jum'at, 10 Januari 2020.
Sampai dengan saat tanggal 8 Januari 2020, dari satelit VIIRS confidance level high terpantau 760 hotspot, sedangkan dari satelit MODIS confidance level >80% terpantau 619 hotspot kebakaran hutan dan lahan terpantau di berbagai wilayah Australia. Kebakaran hutan yang menghasilkan asap tebal ini, berdampak hingga Selandia Baru. Hingga saat ini ada hampir 15 juta hektare hutan dan lahan di Australia yang dilalap kobaran api. 

Dilaporkan akibat kebakaran hutan dan lahan di Australia menimbulkan 24 korban jiwa dan lebih dari 1.400 rumah hancur. Ahli ekologi di Australia memperkirakan hampir setengah miliar satwa termasuk reptil, mamalia, dan burung telah mati, bahkan 8.000 Koala yang menjadi satwa liar asli Australia musnah akibat kebakaran yang melanda negara itu sejak September 2019.

Pelaksana tugas (Plt) Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan pada Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, KLHK, Raffles B. Panjaitan, mengungkapkan kejadian kebakaran hutan dan lahan di Australia harus bisa dijadikan pelajaran oleh masyarakat di Indonesia untuk tidak membakar hutan dan lahan karena akan berdampak sangat luas bagi kehidupan.

“Kita harus terus meningkatkan upaya pencegahan. Siklus karhutla di Indonesia yang bisa terjadi di bulan-bulan pada awal tahun khusus di beberapa daerah rawan harus lebih diwaspadai", jelas Raffles. 

Kasus kebakaran hutan ekstrim di Australia ini dipengaruhi oleh faktor cuaca yang panas, kering serta berangin. Selain itu kebakaran ini juga terjadi akibat kombinasi dari pola cuaca yang memanas dalam jangka pendek dan jangka panjang.

Pada konteks jangka panjang, tahun 2019 Australia mengalami cuaca terpanas dan terkering yang menyebabkan terjadinya kemarau lebih lama. Tren hujan pun mengalami penurunan, khususnya di beberapa wilayah. Pada 18 Desember, Australia juga memasuki hari terpanas sepanjang sejarah mereka. Kala itu, suhu udara rata-rata di Australia hampir mencapai 42 derajat Celcius.

Pada jangka pendek, ada dua faktor yang turut berpengaruh yaitu suhu air di bagian Barat Samudera Hindia yang lebih hangat dibandingkan rata-rata serta suhu udara yang lebih dingin di bagian Timur. Kondisi ini membuat musim hujan semakin jauh dari Australia.

Pantauan hotspot di Indonesia, sampai dengan saat ini, pada tanggal 1 – 9 Januari 2020, berdasarkan Satelit NOAA Confidance Level ?80% belum terpantau adanya hotspot, pada periode yang sama tahun 2019 jumlah hotspot sebanyak 11 titik. Sedangkan Satelit Terra/Aqua (NASA) Confidence Level ?80% terpantau 14 titik, pada periode yang sama tahun 2019 jumlah hotspot sebanyak 25 titik, berarti terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 11 titik atau 44%.(*)

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat KLHK, 
Djati Witjaksono Hadi – 081977933330