LESTARIKAN EKORIPARIAN CILIWUNG SRENGSENG SAWAH UNTUK PEMULIHAN DAS CILIWUNG

  15 APR 2017

SIARAN PERS
Nomor : SP. 81/HUMAS/PP/HMS.3/04/2017

Jakarta, Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sabtu, 15 April 2017. Sebagai upaya pelestarian dan perbaikan kualitas air Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama-sama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPERA), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pemerintah Kota Jakarta Selatan, dunia usaha dan komunitas masyarakat, membangun Ekoriparian Ciliwung Srengseng Sawah. Inisiasi yang dimulai setahun yang lalu ini, secara resmi dikukuhkan oleh Menteri LHK, Siti Nurbaya di Sempadan Sungai Ciliwung, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan (15/04/2017).

Sebagaimana disampaikan Siti Nurbaya, tujuan pengembangan Ekoriparian Srengseng Sawah, adalah untuk mengembalikan fungsi sungai secara ekoogis. “Hampir 60-80% pemukiman dekat dengan sumber air, sehingga merawat sungai menjadi sangat penting, dan sebagai salah satu solusi permasalahan lingkungan yang sangat luas”, ujar Siti Nurbaya.

Siti Nurbaya juga menginformasikan, saat ini 73,24% sungai di Indonesia berada pada status tercemar cukup berat, sedangkan 2,01% memenuhi baku mutu kualitas air kelas II. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor. 82 Tahun 2001, tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, kualitas air tersebut tidak boleh digunakan langsung untuk memasak dan air minum, melainkan untuk sarana rekreasi, budidaya ikan, ternak, dan menyiram tanaman. 

Adapun Sungai Ciliwung yang alirannya melalui Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok dan Provinsi DKI Jakarta, masih berfungsi sebagai sumber air minum di Jakarta. Data KLHK (2016) menunjukkan, Beban Pencemar Air Eksisting yang masuk ke Sungai Ciliwung adalah 54.416,64 kg/hari, sedangkan Daya Tampung Beban Pencemaran keseluruhan adalah 9.290,47 kg/hari. Ini berarti beban pencemaran air di Sungai Ciliwung telah melampaui batas, dan harus diturunkan. 

Untuk memantau kualitas air sungai, KLHK membangun Stasiun Pemantau Kualitas Air Secara Kontinyu, atau disebut Online Monitoring Sungai (ONLIMO). Sampai saat ini telah dibangun 10 ONLIMO, yaitu: 3 (tiga) lokasi di Sungai Ciliwung, salah satunya di Zona 1 Ekoriparian Ciliwung Srengseng Sawah, 1 (satu) di Wangisagara Citarum, 2 (dua) di Sungai Serayu, 2 (dua) di Sungai Bengawan Solo, dan 2 (dua) ldi Sungai Cisadane. Data ONLIMO tersebut akan dikoneksikan dengan pusat data kualitas air nasional di KLHK.

Sebanyak tujuh perusahaan dan komunitas masyarakat terlibat dalam pembangunan fasilitas Ekoriparian, antara lain yaitu jalur jogging dari limbah penambangan (tailing), saung edukasi dan pengolahan air limbah warga, saung edukasi pengolahan sampah organik, area tanaman obat keluarga, saung edukasi air, serta bantuan pengadaan perahu dan pengadaan semen. 

Direktur Jenderal PPKL, M.R. Karliansyah, berharap kegiatan serupa dapat direplikasikan di beberapa segmen lain di Sungai Ciliwung serta sungai lain di Indonesia. “Kawasan Sungai Ciliwung ke depannya dapat menjadi tujuan wisata, sebagai zona percontohan perbaikan kualitas air dan pengelolaan DAS, sekaligus zona kegiatan budaya khas Daerah Sungai Ciliwung”, tutur Karliansyah. (***)

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 
Djati Witjaksono Hadi – 081375633330