KLHK RANGKUL 16 MITRA KERJASAMA KONSERVASI TAMAN NASIONAL BETUNG KERIHUN DAN DANAU SENTARUM

  17 JUL 2017

Nomor : SP. 137/HUMAS/PP/HMS.3/07/2017

Jakarta, Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Senin, 17 Juli 2017. Keterbatasan sumberdaya manusia, anggaran serta sarana dan prasarana dalam pengelolaan konservasi, dapat diatasi dengan meningkatkan kerjasama dengan mitra konservasi. Hal inilah yang mendorong Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama-sama 16 mitra konservasi, untuk bekerjasama melakukan Penguatan Fungsi Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum antara Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS).

Penandatanganan Perjanjian Kerjasama tersebut dilakukan oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Ir. Wiratno, M.Sc. dan Bupati Kapuas Hulu, H. AM Nasir, di Jakarta (13/07/2017). Saat ini BBTNBKDS dimandatkan untuk mengelola dua kawasan, yaitu Taman Nasional Betung Kerihun dengan luas 816.693 Ha dan Taman Nasional Danau Sentarum dengan luas 127.939 Ha, sehingga hal ini memerlukan dukungan yang cukup besar.

Dalam kesempatan ini, Wiratno menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, dan para mitra. Menurut Wiratno semua pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, perguruan tinggi, swasta, dan khususnya masyarakat harus terlibat secara bersama-sama di dalam mendorong dan mensukseskan program-program prioritas pemerintah. 

Wiratno juga menyampaikan bahwa salah satu program prioritas saat ini adalah Perhutanan Sosial, dan kerjasama pengelolaan kawasan konservasi, menurut Wiratno bukanlah hal baru, akan tetapi dalam pelaksanaannya, tidak semua pihak mau dan mampu membangun kerjasama tersebut. 

“Masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan konservasi, seringkali menjadi pihak yang tidak mendapatkan perhatian serius, dan mendapatkan manfaat suatu program pembangunan, termasuk program pelestarian sumberdaya alam, Sementara, justru merekalah yang seharusnya menjadi pihak yang pertama yang menikmati dan merasakan manfaat adanya kawasan konservasi tersebut”, ujar Wiratno dalam arahannya.

Apresiasi serupa kepada KLHK dan para mitra juga disampaikan AM Nasir. AM Nasir berharap kerjasama ini akan mendorong tercapainya Visi pembangunan Kabupaten Kapuas Hulu yaitu ” Menuju Kapuas Hulu yang Sejahtera, Berdaya Saing dan Harmonis”, dengan tetap mengedepankan nilai-nilai strategis Kapuas Hulu sebagai Jantung Kalimantan (The Heart of Borneo), Wilayah Perbatasan, Transboundary Protected Areas dan sebagai Kabupaten Konservasi yang pertama di Indonesia.

Keenam belas mitra yang berkerjasama yaitu Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kapuas Hulu, Fakultas Kehutanan Universitas Tanjung Pura, Fakultas Pertanian Universitas Kapuas, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kapuas, PRCF Indonesia, KABAN, Yayasan Dian Tama, Canopy Indonesia, Yok Kita Jelajah Khatulistiwa Tour and Travel, Komunitas Pariwisata Kapuas Hulu, Lembaga Pengkajian Studi Arus-Arus Informasi Regional, Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang, Asosiasi Periau Danau Sentarum dan Asosiasi Periau Muara Belitung. 

Saat ini, Direktorat Jenderal KSDAE tengah menggiatkan program kemitraan Unit Pelaksana Teknis Ditjen KSDAE, dengan kelompok masyarakat yang berada di dalam dan sekitar kawasan konservasi. Wiratno menegaskan, pengelolaan dan pelestarian kawasan konservasi tidak akan terwujud dengan baik, apabila masyarakat tidak ada pelibatan masyarakat. Selain kebijakan, Wiratno menyampaikan yang paling penting adalah komitmen para pihak. (*)

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 
Djati Witjaksono Hadi – 081375633330