Kementerian Koordinator Perekonomian Dukung Konservasi Alam untuk Sejahterakan Masyarakat Sekitar

  10 AUG 2017

SIARAN PERS
Nomor : SP. 187/HUMAS/PP/HMS.3/08/2017

Situbondo – Jawa Timur, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kamis, 10 Agustus 2017. Puncak peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) secara resmi diselenggarakan di Taman Nasional (TN) Baluran, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur (10/08/2017). Dalam kesempatan ini, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, hadir didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, Bupati Situbondo, Ketua Komisi IV DPR RI, Bupati Banyuwangi, Bupati Bondowoso, Bupati Jember, dan Perwakilan Gubernur Jawa Timur.

Sebagaimana tema HKAN tahun 2017 “Konservasi Alam-Konservasi Kita”, Menko Darmin Nasution menyampaikan bahwa agar konservasi dapat berjakan dengan baik, diperlukan sikap kepemimpinan (leadership), standar, dan partisipasi masyarakat. 

“Tidak ada leadership, maka tidak ada konservasi. Selanjutnya perlu disusun standar untuk memelihara, menyempurnakan, dan mengembangkan konservasi. Konservasi juga tak mungkin berhasil, jika hanya didukung oleh pimpinan, aparat, dan pemerintah daerah, hal ini membutuhkan peranan masyarakat. Oleh karena perlu ada sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat di sekitarnya”, ujar Darmin.

Selain itu, Darmin juga berharap publikasi terkait potensi wisata di TN dapat lebih ditingkatkan, dan upaya pengembangbiakan melalui persilangan spesies yang berbeda, dianggap Darmin kurang tepat jika diperuntukkan untuk dalam kawasan, tetapi lebih tepat untuk tujuan komersial

Darmin juga berpesan, agar konservasi dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Mendukung hal tersebut, Darmin menyampaikan bahwa program Perhutanan Sosial dapat menjadi pilihan yang tepat, untuk implementasi pelibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi, khususnya sektor wisata alam.

“Adapun pengembangan pariwisata alam di kawasan konservasi, perlu dirancang dengan baik sehingga memiliki keunikan tersendiri yang tidak mungkin ditemukan di tempat lain, dan berlangsung kontinu”, Darmin menambahkan.

Terakhir Darmin menegaskan dukungannya terhadap upaya konservasi dan menghimbau agar dapat membudayakan perilaku konservasi dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Bupati Situbondo, Dadang Wigiarto menyambut baik pemilihan lokasi puncak HKAN tahun 2017 di TN Baluran. Menurut Dadang, TN ini merupakan salah satu dari 5 TN yang ditetapkan pertama kali di Indonesia, serta memiliki tipe ekosistem savana yang khas sehingga mendapat julukan “little africa van java” dengan jenis-jenis satwa liar besar seperti banteng, kerbau liar, dan rusa.

Adanya ancaman invasi jenis asing invasif pada ekosistem savana dan penurunan populasi banteng di TN Baluran memerlukan aksi nyata pemulihan ekosistem bersama. Dadang menyatakan kesiapan untuk membantu dan bekerjasama dengan Kementerian LHK mengatasi permasalahan tersebut.

Tanggal yang ditetapkan sebagai HKAN adalah 10 Agustus, merupakan tanggal ditetapkannya UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang saat ini sedang direvisi. Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Herman Khaeron, yang juga hadir dalam acara puncak HKAN menyatakan dalam tahun ini revisi UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem diupayakan selesai. “Silahkan diwarnai menjadi UU yang melindungi kelestarian alam dan memberikan manfaat kepada masyarakat”, ungkap Herman.

Menurut laporan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian LHK, Wiratno, puncak Peringatan HKAN kali ini diikuti 1.100 peserta terdiri dari peserta Pameran Konservasi Alam dan Produk Unggulan, Peserta Jambore Nasional Konservasi Alam, Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat dan mitra. 

“Tujuan utama peringatan HKAN yaitu untuk memasyarakatkan konservasi alam secara nasional sebagai sikap hidup dan budaya bangsa”, ucap Wiratno.

Dalam acara yang diihadiri seluruh kepala Unit Pelaksana Teknis Ditjen KSDAE seluruh Indonesia ini, Menteri LHK Siti Nurbaya dan Menko Darmin Nasution juga berkesempatan memberikan Apresiasi Konservasi Alam kepada 18 penerima yaitu para terbaik dalam pengelola taman Kehati In Situ, Pengelola Taman Kehati Ex Situ, Polisi Kehutanan, Desa Binaan Konservasi, Pengendali Ekosistem Hutan, Pemegang Izin Lembaga Konservasi, Pemegang Izin Penangkar, serta pemenang video kreatif terbaik. 

Selain itu, juga dilakukan pelepasliaran lima ekor Merak Hijau umur 4-5 tahun yang berasal dari hasil sitaan, dan penyerahan masyarakat yang telah direhabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Bali, Balai KSDA Bali. Juga pelepasliaran 4 ekor Elang Alap Jambul umur 6 -7 tahun yang berasal dari hasil sitaan Polda Jawa Timur dan penyerahan masyarakat, yang telah direhabilitasi di Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta serta telah diberi ring. (*)

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 
Djati Witjaksono Hadi – 081375633330