Manggala Agni, Kejar Titik Api tak Kenal Waktu

  14 SEP 2017

Nomor : SP.246/HUMAS/PP/HMS.3/09/2017

Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kamis, 14 September 2017. Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, Manggala Agni sebagai ujung tombak pemadam kebakaran di lapangan tidak mengenal waktu dan tempat dalam melakukan upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Jarak yang jauh, tidak menyurutkan semangat Manggala Agni untuk memadamkan api. Bahkan, malam hari pun dengan tenaga tersisa setelah beraktivitas di siang hari tidak membuat Manggala Agni menyerah untuk melakukan pemadaman. 

Rabu (13/09/2017), Manggala Agni Daerah Operasi (Daops) Banyuasin, Sumatera Selatan bersama-sama dengan anggota TNI dan POLRI melakukan pemadaman di beberapa wilayah Kabupaten Banyuasin dan sekitarnya. Tim pertama melakukan pemadaman di Kelurahan Pulo Kerto, Kecamatan Gandus, Kota Palembang seluas ± 3 ha. Api dapat dipadamkan setelah dilakukan pemadaman selama kurang lebih 2 jam. 

Pemadaman juga dilakukan oleh Manggala Agni Daops Banyausin secara terpadu bersama-sama dengan TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api, dan didukung oleh Satgas Udara. Satu unit heli melakukan water bombing di Desa Sungai Rambutan, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, titik koordinat S 03.09753° E 104.70547°. Kebakaran yang terjadi pada lahan gambut seluas ± 4 ha dengan vegetasi semak belukar ini berhasil dipadamkan pada sore hari oleh tim pemadam setelah dilakukan pemadaman selama hampir 3 jam. Pemadaman pun dilanjutkan di lokasi yang lain, desa yang sama namun titik koordinat berbeda yaitu S 03.09400° E 104.70406°. Luas terbakar sekitar 1 ha dan api berhasil dikendalikan setelah 1 jam dilakukan pemadaman. 

Perjuangan Manggala Agni Daops Banyuasin belum berhenti sampai di titik ini. Manggala Agni pun melanjutkan ke titik berikutnya yaitu pada koordinat S 03.10003° E 104.70012°, desa yang sama, Desa Sungai Rambutan, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir. Lahan yang terbakar berupa lahan gambut seluas ± 1,5 Ha, vegetasi semak belukar. Pukul 20.50 WIB, kebakaran berhasil dikendalikan oleh Manggala Agni dan tim setelah dilakukan pemadaman selama hampir 2 jam. 

Di Kalimantan Selatan, Manggala Agni Daops Tanah Laut juga melakukan pemadaman pada titik koordinat S 03.614480 E 114.753810, Desa Tanggul, Kecamatan Bati-bati, Kabupaten Tanah Laut. Berdasarkan informasi dari tim patroli terpadu posko AJU Nusa Indah, Manggala Agni Daops Tanah Laut segera menuju lokasi kebakaran dan melakukan pemadaman pada lahan seluas ± 2 Ha. Pemadaman dilakukan selama kurang lebih 2 jam. Api berhasil dipadamkan. Kamis 14 September 2017, direncanakan Helikopter KLHK akan mendarat di Bandara Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan. Helikopter ini didatangkan dari Kalimantan Barat untuk mendukung pemadaman di Kalimantan Selatan. 

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Raffles B. Panjaitan menegaskan, bahwa semua personel Manggala Agni siap dan dikondisikan bekerja tanpa batasan tempat dan waktu. “Dimana terjadi kebakaran hutan dan lahan, Manggala Agni akan berusaha keras mengejarnya sampai ke titik lokasi. Tidak jarang hingga malam hari pun Manggala Agni terus melakukan pemadaman sampai api benar-benar padam.”, ujar Raffles. 

Pemantauan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK tanggal 13 September 2017 pukul 20.00 WIB, berdasarkan pada satelit NOAA 19 terpantau 10 hotspot dengan rincian 1 titik di Jambi (Kabupaten Muaro Jambi) , 2 titik di Sumatera Selatan (Kabupaten OKU dan Musirawas), 1 titik di Kalimantan Tengah (Kota Waringin Barat), 1 titik di Jawa Barat (Kabupaten Garut), 1 titik di Jawa Timur (Kabupaten Lamongan), 1 titik di Lampung (kabupaten Lampung Timur), dan 3 titik di Provinsi Bangka Belitung (Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah).

Berdasarkan Satelit TERRA AQUA (NASA) Confidence Level >80%, terpantau 11 hotspot dengan rincian 1 titik di Sumatera Selatan (Kabupaten OKU), 4 titik di Papua (Kabupaten Merauke, Jaya Wijaya), 3 titik di Provinsi Bangka Belitung (Kabupaten Bangka Barat, Bangka Selatan), dan 3 titik di Jawa Timur (Kabupaten Jember, Sidoarjo).

Sedangkan berdasarkan Satelit TERRA AQUA (LAPAN) Confidence Level >80%, terpantau 13 hotspot dengan rincian 2 titik di Sumatera Selatan (Kabupaten OKU), 4 titik di Papua (Kabupaten Merauke, Jaya Wijaya), 3 titik di Provinsi Bangka Belitung (Kabupaten Bangka Barat, Bangka Selatan), 3 titik di Jawa Timur (Kabupaten Jember, Sidoarjo), dan 1 titik di Jawa Tengah (Kabupaten Blora).

Dengan demikian, berdasarkan Satelit NOAA 19 untuk periode 1 Januari – 12 September 2017 terdapat 1.869 titik. Jumlah ini menurun sebanyak 1.030 titik (35,52%) jika dibandingkan pada periode yang sama tahun 2016 sebanyak 2.899 titik. 

Berdasarkan Satelit Terra/Aqua (NASA) Confidence Level >80% periode tanggal 1 Januari – 12 September 2017 juga mengalami penurunan jumlah hotspot sebanyak 2.226 hotspot (65,76) jika dibandingkan dengan jumlah hotspot tahun 2016, yaitu dari 3.385 titik menjadi 1.159 titik.(*)

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 
Djati Witjaksono Hadi – 081375633330