Mari Kita Lestarikan Satu-satunya Badak Jawa di Dunia

  19 SEP 2017

SIARAN PERS
Nomor: SP. 254 /HUMAS/PP/HMS.3/09/2017

Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Selasa, 19 September 2017. Setelah dinyatakan punah di negara tetangga Myanmar, Indonesia menjadi satu-satunya negara dengan keberadaan Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), yang terletak di Taman Nasional (TN) Ujung Kulon, Provinsi Banten. Badak Jawa yang memiliki cula satu menjadi satwa yang paling terancam punah akibat perburuan, dibandingkan jenis badak lainnya di dunia yang memiliki cula dua.

Menyadari hal ini, sejak tahun 2007 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Badak yang berlaku selama 10 tahun hingga tahun 2017. SRAK ini ditetapkan melalui Peraturan Menteri Kehutanan Nomor. P.43/Menhut-II/2007 Tahun 2007.

“Ada tiga poin utama yang perlu dicapai dalam SRAK Badak ini, yaitu peningkatan populasi badak di alam sebanyak 20%, penyiapan satu blok khusus sebagai step poin site atau suaka Badak Jawa, dan penyiapan habitat alternatif untuk peningkatan populasi Badak Jawa”, ujar Dr. U. Mamat Rahmat, Kepala Balai TN Ujung Kulon di Banten (14/09/2017).

Selain itu, Dr. Mamat juga menyampaikan, saat ini sedang disusun kelembagaan kolaboratif dengan para pihak termasuk masyarakat, dalam penyiapan blok pengembangbiakan (breeding), dan blok kesehatan. Terkait keberadaan beberapa satwa Badak Jawa yang telah melewati masa produktif untuk pengembangbiakan, menurut beliau, dapat dimanfaatkan sebagai obyek dan daya tarik wisata alam (ODTWA).

“Kelangkaan satwa Badak Jawa di alam, juga dipengaruhi oleh sifat alaminya yang membutuhkan waktu lama untuk berkembang biak. Masa mengandung badak betina yaitu selama 18 bulan, dan masa menyusui selama 2 tahun. Kemudian setelah selesai mensapih anak Badak, barulah betina tersebut mau dikawini oleh badak jantan, sehingga untuk dapat menghasilkan satu anak badak di alam, memerlukan waktu kurang lebih 5 tahun”, jelas Dr. Mamat.

Dari kelima lokasi TN Ujung Kulon, yaitu Gunung Honje, Pulau Panaitan, Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Handeuleum, dan Pulau Peucang, Badak Jawa hanya dapat ditemukan di Semenanjung Ujung Kulon. Selain Badak Jawa, di lokasi tersebut juga dapat ditemukan satwa-satwa lain seperti banteng, merak, anjing hutan, kucing hutan, dan penyu. 

Sedangkan di Pulau Peucang, meski tidak terdapat satwa Badak Jawa, namun dapat ditemukan satwa-satwa lain seperti rusa, kijang, babi hutan, dan monyet ekor panjang, serta berbagai jenis burung. 

Dr. Mamat menambahkan, bahwa selain perburuan, keberadaan satwa Badak Jawa terancam oleh ancaman penyakit lokal, bencana alam gunung meletus, predator alami, persaingan memperoleh pakan dengan satwa banteng, serta ancaman inbreeding yang dapat menurunkan kualitas genetik.

“Oleh karena keterbatasan ruang gerak Badak Jawa, ancaman inbreeding menjadi paling berbahaya,karena dapat menimbulkan sifat resesif, cacat bawaan, hingga kepunahan”, ujar Dr. Mamat khawatir.

Dalam upaya mencari habitat alternatif untuk Badak Jawa, sejak tahun 2010, telah dilakukan survei ke beberapa lokasi di luar TN Ujung Kulon, antara lain di Suaka Margasatwa (SM) Cikepuh, Cagar Alam (CA) Sancang, dan Cikesik. “Berdasarkan hasil survei, SM Cikepuh menjadi lokasi yang paling memungkinkan, karena masih luas dan minim konflik”, ungkap Dr. Mamat.

Upaya kolaboratif lainnya dalam pelestarian Badak Jawa juga dilakukan KLHK dengan mitra World Wide Fund for Nature (WWF), dalam pencarian habitat alternatif dan monitoring, serta dengan Yayasan Badak Indonesia (YABI) dalam upaya penangkaran Badak di Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA).

Sebagiamana diketahui, pada peringatan Hari Badak Sedunia pada tanggal 22 September mendatang, KLHK akan mengajak para pemangku kepentingan termasuk media, untuk mengunjungi langsung Taman Nasional (TN) Ujung Kulon. Melalui tema “Di Ujung Cula Badak Jawa”, peringatan ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian dan komitmen seluruh masyarakat dalam upaya pelestarian Badak Jawa. (*) 


Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,
Djati Witjaksono Hadi – 081375633330

Informasi lebih lanjut:
Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon
Dr. U. Mamat Rahmat - 087873417555/081212817058