Satgas Udara Gunakan 26 Pesawat Untuk Kendalikan Kebakaran Hutan dan Lahan

  11 OCT 2017

SIARAN PERS
Nomor : SP. 294 /HUMAS/PP/HMS.3/10/2017


Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rabu, 11 Oktober 2017. Dalam pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), selain dilakukan melalui pemadaman darat, juga lewat operasi udara oleh Satuan Tugas (Satgas) Udara. Satgas Udara terdiri dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI Angkatan Udara, dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Selama 2017, dukungan operasi udara melibatkan 26 unit pesawat untuk water bombing dan teknologi modifikasi cuaca (TMC). Pesawat yang digunakan Satgas Udara, yakni jenis Kamov kapasitas 5.000 liter, Sikorsky 61 dan MI kapasitas 4.000 liter, Bell kapasitas 3.000 liter dan Bolcow kapasitas 0,6 ton.

Menurut laporan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan Dan Lahan KLHK, per tanggal 11 Oktober 2017, telah dilakukan water bombing sebanyak 82.560.650 liter dan penyemaian garam 181,44 ton untuk TMC di seluruh Indonesia.

Operasi darat juga kontiniu dilakukan. Pada 10 Oktober 2017, Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK – Manggala Agni melakukan pemadaman seluas ± 4 Ha di Desa Payakabung, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Kebakaran terjadi pada tanah gambut bervegetasi semak belukar, dan berhasil dipadamkan dalam waktu 2 jam.

Kebakaran lahan yang terjadi di Desa Atari Indah, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara seluas ± 2,35 Ha juga berhasil dipadamkan. Kebakaran terjadi pada vegetasi semak belukar dan padang rumput, diduga karena aktivitas masyarakat yang membersihkan lahan dengan membakar.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, KLHK, Raffles B. Panjaitan mengungkapkan bahwa meskipun di beberapa daerah sudah banyak hujan, namun di daerah lainnya potensi ancaman kebakaran hutan dan lahan harus tetap diwaspadai.

"Patroli terpadu dan upaya pencegahan lainnya harus terus dilaksanakan untuk mengurangi terjadinya karhutla", tegas Raffles.

Sementara itu, pantauan hotspot dari Posko Dalkarhutla KLHK pada Selasa, 10/10/2017 pukul 20.00 WIB, berdasarkan satelit NOAA terpantau 2 hotspot yang tersebar di Provinsi Jawa Timur dan Sulawesi Selatan masing-masing 1 titik. Sedangkan Satelit TERRA AQUA memantau 6 hotspot yaitu di Nusa Tenggara Timur 4 titik, Kalimantan Selatan 1 titik, dan Kalimantan Timur 1 titik.

Hingga malam tadi (10/10/2017), berdasarkan Satelit NOAA untuk periode 1 Januari – 10 Oktober 2017 terdapat hotspot sebanyak 2.359 titik di seluruh Indonesia. Sedangkan pada periode yang sama di tahun 2016, jumlah hotspot tercatat sebanyak 3.508 titik. Dibandingkan tahun lalu, tahun ini terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 1.149 titik atau sebesar 32,75%.

Sementara, satelit TERRA-AQUA (NASA) confidence level ?80% mencatat terdapat 1.849 hotspot. Jumlah ini menurun sebanyak 1.719 titik (48,17%), jika dibandingkan dengan tahun 2016 pada periode yang sama, yaitu sebanyak 3.568 titik.(*)

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,
Djati Witjaksono Hadi – 081375633330