Lewat Buku, Kita Turut Jaga Hutan dan Lingkungan

  23 OCT 2017

Nomor : SP. 311/HUMAS/PP/HMS.3/10/2017

Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Senin, 23 Oktober 2017. Pencegahan dan penangkalan kejahatan di sektor kehutanan menjadi tanggungjawab bersama, dengan mengutamakan penegakan hukum yang tegas, dan semangat untuk memperbaiki tata kelola kehutanan.

Sebagai salah satu bentuk dukungan terhadap upaya penegakan hukum tersebut, Koalisi Eyes on the Forest (EoF) meluncurkan buku Mata Tajam EoF, yang mengupas laporan-laporan investigasi yang pernah dilakukan sejak 2005 hingga 2016. Pada saat yang bersamaan juga dilakukan peluncuran Buku Di Balik Krisis Ekosistem karya Prof. Hariadi Kartohadihardjo yang didukung oleh Yayasan Kehati, di Auditorium Dr. Soedjarwo Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta (23/10/2017).

Penerbitan buku ini disambut baik oleh Menteri LHK Siti Nurbaya, karena buku ini merupakan sumbangan gagasan dan pikiran yang membangun bagi pengelolaan lingkungan dan kehutanan. Menurut Menteri LHK Siti Nurbaya, perbaikan pengelolaan kehutanan dan lingkungan merupakan tanggungjawab bersama, bukan hanya Pemerintah.

Siti Nurbaya juga menyampaikan bahwa suatu kebijakan publik yang diambil pemerintah dapat berasal dari empat aspek, yaitu legal, politis, praktis, dan ilmiah. Dalam hal ini, kedua buku tersebut dapat memberikan masukan yang signifikan dari sisi praktis dan ilmiah.

“Kami siap menerima masukan, seperti kami tunjukkan dengan menggelar peluncuran dua buku ini. Kita musti menghargai segala upaya dari berbagai pihak yang tulus untuk memperbaiki tata kelola di sektor kehutanan,” ujar Menteri LHK Siti Nurbaya.

Buku Mata Tajam EoF merupakan bentuk refleksi tidak hanya untuk koalisi, namun juga publik. Sebagian besar keprihatinan dan kritik yang disampaikan dalam laporan temuan tersebut perlu disikapi dengan perbaikan oleh Pemerintah. Buku ini juga menguraikan kritik terhadap sejumlah pemikiran yang menjadi dasar tindakan dalam pengelolaan hutan dan sumber daya alam lainnya serta lingkungan hidup.

Pada kesempatan yang sama, Yayasan KEHATI juga meluncurkan Buku Di Balik Krisis Ekosistem, sebagai salah satu sumbangsih bagi pelestarian dan pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan, untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia. 

“Melalui buku ini kita bisa menyaksikan berbagai fakta kompleksitas yang terjadi di lapangan terkait kerusakan sumber daya alam akibat eksploitasi yang tidak bertanggung jawab. Tidak hanya itu buku ini juga memberikan solusi dan rekomendasi untuk mengatasi persoalan kompleks tersebut dan mendorong tata kelola yang baik di berbagai lini sehingga kelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistemnya dapat terwujud.” jelas Direktur Eksekutif KEHATI, M.S Sembiring.

Koordinator Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari), Woro Supartinah, dan Pembina Yayasan KEHATI, Ismid Hadad, juga memberikan pengantarnya ada peluncuran kedua buku tersebut. Turut hadir pada acara ini diantaranya Prof. Emil Salim, Djamaludin Soeryohadikusumo, dan Sarwono Kusumaatmadja.

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,
Djati Witjaksono Hadi – 081375633330