Siaran Pers

Sanctuary Suaka Marga Satwa Barumun Harapan Baru Penyelamatan Satwa Langka Indonesia

24 November 2016, dibaca 211 kali.

Nomor : SP.137/HUMAS/PP/HMS.3/11/2016

Padang Sidempuan, Biro Humas Kementerian LHK, Rabu, 24 November 2016: Kawasan hutan Sumatera Utara, ditengarai sebagai sebuah kawasan potensial yang dipertahankan untuk menjadi kawasan perlindungan sistem penyangga kehidupan dan pengawetan keanekaragaman hayati. Sejak lama banyak pihak yang melakukan penelitian tentang Harimau Sumatera. Spesies ini menjadi spesies yang wajib dilindungi, diseluruh Sumatera dilakukan pencarian namun sedikit yang melakukannya di Sumatera Utara.

Hari Rabu (23 November 2016), sebuah usaha menyelamatkan satwa liar di wilayah Sumatera Utara dikukuhkan dengan hadirnya Sanctuary Harimau Sumatera dan KPHK Barumun. Barumun, sebuah wilayah di Kota Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan, lebih tepatnya lagi di Kabupaten Padang Lawas Utara, menjadi kawasan penting bagi penyelamatan satwa. Bambang Hendroyono Sekretaris Jendral KLHK menyatakan kegembiraannya dengan mengatakan, " Harimau Sumatera ini peranannya sangat penting dalam ekosistem hutan, keberadaannya di suatu wilayah menjadi indikator baik atau buruknya keadaan hutan di wilayah tersebut".

Hadirnya Sanctuary dan KPHK Barumun menjadi sebuah bukti bahwa kawasan konservasi menjadi benteng terakhir untuk pengawetan keragaman hayati dan perlindungan sistem penyangga kehidupan.
Kepala Balai Besar KSDAE Sumatera Utara, Romauli Sianturi mengatakan, " Hadirnya sanctuary ini merupakan sebuah kerja nyata dari adanya upaya untuk mewujudkan pengelolaan keanekaragaman hayati, dalam hal ini Harimau Sumatera". Romauli juga mengatakan bahwa pembuatan sanctuary ini merupakan sebuah upaya bersama antara KLHK dengan para pihak. Dia juga mengatakan, tingginya potensi keanekaragaman hayati dan banyaknya pihak yang berkepentingan terhadap kawasan ini, membutuhkan pendekatan strategis dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada, serta bersinergi dengan seluruh program perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan yang lestari dari potensi kawasan.

Kembali ke perihal harimau, saat ini menurut Forum Harimau Kita, diprediksikan hanya ada sekitar 467 ekor Harimau Sumatera yang hidup di habitat asli, dan berada di beberapa kawasan hutan yang terpisah satu dengan yang lain. Satwa kharismatik ini dalam kondisi kritis, apalagi dengan ditemukannya Harimau Sumatera anakan yang selanjutnya diberi nama Gadis, dengan kaki bagian depan sebelah kiri yang akhirnya harus di amputasi setelah dia ditemukan terjerat dalam perangkap babi hutan, membuat KLHK bergerak cepat mempersiapkan strategi penyelamatan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae).

Sesuai Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatera tahun 2007-2017, di mana salah satu rencana aksinya adalah mengidentifikasi dan menetapkan setidaknya dua sanctuary, di mana sanctuary dibangun untuk menampung dan meliarkan lagi harimau- harimau ini. Sanctuary Harimau Sumatera di Barumun ini dibangun dengan pola yang berbeda dengan sanctuary harimau lainnya. Terintegrasi dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (HPHK), maksudnya adalah sanctuary ini berfungsi sebagai tempat rehabilitasi untuk tempat satwa ini beradaptasi sehingga diharapkan di masa mendatang tidak ada lagi harimau dewasa liar yang diserahkan kepada lembaga konservasi ex-situ.

Sanctuary Harimau Sumatera di Suaka Margasatwa Barumun ini, memiliki sejumlah kandang adaptasi yang berfungsi sebagai rehabilitasi berukuran 40 m x 25 m. Disiapkan juga sebuah lorong, yang akan menjadi koridor yang menghubungkan kandang adaptasi dengan daerah habituasi atau daerah menyerupai habitat asli, sebagai tempat harimau melatih insting berburunya sehingga tetap memiliki keliaran sebelum kembali ke habitat aslinya yaitu Suaka Margasatwa (SM) Barumun yang memiliki luas kawasan seluas lebih dari 30 Ha, atau ketempat asli lainnya di mana harimau tersebut mengembara.

Pembangunan sanctuary ini merupakan kerjasama antara KLHK dengan TFCA, Yayasan Parsamuhan Bodhicitta Mandala dan mitra lainnya, yang juga telah ikut membantu pengiriman harimau bernama Gadis dari Taman Nasional Batang Ari ke sanctuary ini. Kondisi gadis yang telah hampir satu tahun berada di kawasan ini, berangsur membaik. Walaupun dengan kaki yang cacat gadis telah mampu memanjat pagar beton setinggi dua meter dan masih memiliki keliaran yang luar biasa. Sambil menunggu selesainya pembangunan koridor satwa ini, ada harapan yang juga disisipkan, sebuah harapan semoga ada tangan-tangan indah yang memberikan kaki palsu bagi Gadis si harimau muda.

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Novrizal Tahar